UMKM

Batik Suminar Pelopor Batik Khas Kabupaten Kediri

Follow Kediri – Di Desa Sekoto, Kecamatan Badas terdapat sebuah perkampungan sentra industri kecil yang memproduksi batik. Di desa ini pula lahirlah motif batik khas Kediri yang sampai saat ini mampu mewakili Kediri di ajang batik Nasional. Namanya adalah Batik Suminar.

Batik Suminar memproduksi  berbagai macam batik tulis dengan motif khas Kediri yang menggambarkan beberapa lokasi wisata dan beberapa potensi yang ada di Kabupaten Kediri. Yang menjadi ciri khas paling mencolok dari Batik Suminar adalah motif bulatan-bulatan kecil yang disematkan pada setiap batik yang diproduksinya.

Pemilik dari brand Batik Suminar adalah Suminarwati. Ia mengatakan bahwa usahanya ini dimulai dari kecintaannya terhadap batik, serta keprihatinannya karena belum ada batik khas dari Kabupaten Kediri.

“Sejak kecil saya menyukai batik. Lalu tahun ‘92 saya sudah memulai usaha batik. Berbagai motif batik, mulai dari batik Jogja, Solo, Papua dan Madura semua dilayani. Lalu, munculah keprihatinan kok tidak ada batik khas Kabupaten Kediri. Kemudian, saya berinisiatif menciptakan batik sebagai ciri khas daerah.” tutur Suminarwati.

Saat ia mencari berbagai literatur batik, Suminarwati tidak menemukan keberadaan batik khas Kediri.” Waktu itu motif batik saya yang pertama adalah Batik Simpang Lima Gumul,” kenang Suminar.

Untuk memproduksi Batik Suminar, ia mengambil tenaga pembatik dari warga disekitaran rumahnya. Awal mulanya, ia hanya memiliki dua orang karyawan saja. Namun seiring berkembangnya usaha, saat ini ia memiliki sekitar 34 karyawan yang membantunya dalam memproduksi batik.

“34 karyawan ini sebagian besar Buruh Tani Brambang. Jadi pada pagi hari mereka pergi ke sawah, kemudian siang membatik di sini, lalu sore mereka ke sawah lagi. Harapannya, usaha ini mampu memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan wanita di sekitar desa Sekoto.” tutur Suminar.

batik suminar

Suminar menuturkan bahwa dirinya tidak menyangka jika motif khas Kediri kreasinya diminati berbagai masyarakat. Terlebih lagi, sejak Batik Indonesia telah diakui sebagai warisan dunia oleh PBB, eksistensi Batik Kediri pun semakin berkembang. Terbukti dengan jumlah pesanan batik yang terus meningkat, hingga kini sedikitnya 600 lembar batik siap jual tiap bulannya.

“Batik Indonesia sudah diakui dan disahkan secara resmi menjadi Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Ini mendorong perkembangan kami.” tambah Suminar.

Ia selalu menekankan dan meningkatkan mutu serta kualitas dalam setiap batik hasil produksinya. Prinsip inilah yang membuat usahanya terus berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas. Saat ini produksinya telah dikirim ke berbagai wilayah di Kalimantan, Sumatera dan Jakarta.

Anaknya pun turut serta membantu dirinya dalam mengembangkan usaha Batik Suminar. Saat ini Batik Suminar telah memiliki enam outlet di Kediri dan terus mengembangkan usahanya melalui media online.

Baca juga topik UMKM lainnya :

“Anak saya membantu pemasaran via online. Alhamdulillah bagus. Seperti hari ini juga ada pengiriman ke Riau.” jelas Suminar.

Saat ini ia telah membuat beberapa motif SLG, tagline “Kediri Lagi”, Jajar Legowo, Jaranan, Cengkeh, Mega Mendung dan Bekicot. Walaupun saat ini usahanya sudah terbilang sukses, namun ia tetap semangat untuk terus berkarya.

“Seperti saat ini, untuk mengangkat Profil Desa Sekoto Kecamatan Badas, saya sedang mendesain motif TEPAS, yang berarti Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Sengaja saya munculkan untuk mengenang Desa Sekoto yang kebetulan menjadi Tempat Pembuangan Sampah Kabupaten Kediri.” kata Suminar

Komentar Yuk

Close
Close