Inspiratif

Nanda Mei Sholihah, Atlet Difabel Segudang Prestasi Asli Putri Kediri

Follow Kediri – Siapa bilang kelemahan menjadi penghalang bagi kamu meraih mimpi? Kisah Nanda Mei Sholihah, akan menginspirasi kita bahwa kekurangan fisik tidak membatasinya untuk meraih mimpi dan prestasi. Sang ibu, Rini Suwarni juga mendukung dan menyemangatinya agar Nanda tidak pernah putus asa.

Keterbatasan bukanlah Halangan Meraih Prestasi

Anak sulung asal Kediri ini terlahir dengan keterbatasan fisik, ia lahir tanpa setengah lengan kanan. Namun, kekurangannya ini bukanlah sebuah halangan besar. Buktinya ia bisa melakukan berbagai aktivitas sehari-hari, meskipun hanya satu tangan yang berfungsi normal.

Siapa sangka, dibalik keterbatasan fisiknya Nanda adalah atlet paralimpik cabang atletik nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter loh. Keren ya? Selain itu, Nanda juga memiliki banyak prestasi yang membanggakan, diantaranya ia pernah meraih medari perak di lari 100 meter dan 200 meter serta medali perunggu di lari 400 meter pada ajang ASEAN Para Games 2014 di Myanmar.

Nanda Mei Sholihah
Nanda Mei Sholihah

Bukan itu saja, ia juga pernah meraih 3 medali emas di ajang Asean Para Games 2015 cabang atletik nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. Dan yang terbaru, ia berhasil meraih 3 medali emas di ASEAN Para Games tahun 2017 di Malaysia. Sungguh prestasi yang luar biasa!

“Anehnya, aku tuh ngerasa kalau aku nggak cacat. Kalau aku nggak beda. Jadi aku cuek aja. Lagi pula, orangtuaku juga selalu mengajakku untuk bersosialisasi dengan orang banyak, jadinya ya udah biasa,” papar Nanda ketika ditemui di kawasan Malioboro saat berlatih membawa api obor replika Asian Games 2018.

Berprestasi sejak kecil

Salah satu hal yang menarik, orangtua Nanda Mei Sholihah selalu memperlakukan gadis cantik kelahiran 17 Mei 1999 ini seperti gadis normal pada umumnya. Termasuk saat memilih sekolah, mereka menyekolahkan putrinya ini di sekolah umum bukan di sekolah luar biasa lainnya.

“Itu waktu aku umur 5 tahun. Orangtuaku mendaftarkan aku di sebuah TK deket rumah, di Kediri. Tapi, tiba-tiba mereka dipanggil. ‘Pak, ini anaknya ada keterbatasan fisik dan ini nggak bisa diterima di sini’,” ucap Nanda.

Ya, tantangan mulai dihadapi saat Nanda akan mendaftar sekolah. Kepala sekolah justru menyarankan agar Nanda didaftarkan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun akhirnya mereka tetap mencari sekolah umum yang lainnya.

Akhirnya Nanda bersekolah di TK Aisyah ABA VII Kediri. Tak disangka, lingkungan sekolahnya justru sangat mendukung potensi yang ada dalam dirinya. Ia sering ikut berbagai lomba seperti lomba lari, baca puisi dan juga menggambar.

Dilatih menjadi atlet sejak SD

Saat Nanda duduk di bangku kelas 5 SD, Ketua NPC Kediri kala itu menawarinya untuk menjadi atlet. Awalnya memang Nanda sempat ragu. Bukan hanya dirinya, namun orang-orang disekitarnya juga banyak yang meragukan kemampuannya.

Tapi, dorongan dan semangat dari sang ibu mampu membuatnya yakin untuk mengambil kesempatan tersebut. Inilah titik balik seorang Nanda Mei Sholihah, dan kini ia menjadi salah satu atlet difabel andalan Tanah Air.

“Katanya, aku itu udah dilirik dari kecil (untuk jadi atlet). Nah, waktu kelas 5 SD, Pak Karmani datang ke SD aku, tanya alamatku. Terus datang ke rumah. Dia bilang, ‘kamu mau kan naik pesawat nanti, ke luar kota untuk lomba-lomba?‘,” ujar mahasiswi Sosiologi UNS ini.

Baca juga topik Inspiratif lainnya

Ia mengaku bahwa dengan ia menjadi atlet, banyak hal bisa dia pelajari. Lewat banyak bertemu dengan penyandang difabel yang kekurangannya lebih daripada dirinya, hal ini meningkatkan semangat dan membuatnya untuk selalu bersyukur.

Menjadi calon juara di Asia Para Games 2018

Saat ini, Nanda Mei Sholihah memang sedang disibukan dengan pelatihan nasional di Solo. Ia akan mengikuti lomba di nomor 100 meter, 200 meter dan lompat jauh pada pesta olahraga Asian Para Games 2018 yang akan dilaksanakan pada Oktober mendatang.

“Khusus lompat jauh, ini peluang baru buatku. Aku ditarget perunggu sama pelatih. Tapi, kalau target pribadi sih, ya harus lebih dari itu,” ujar atlet asuhan Slamet Widodo ini sambil tersenyum.

Nanda Mei Sholihah
Nanda Mei Sholihah

Untuk meningkatkan performanya, berbagai persiapan sudah ia lakukan. Mulai dari latihan yang lebih intens, menjaga pola makan serta menyiapkan waktu istirahat yang cukup.

“Asian Para Games ini lebih berat, lawannya juga lebih senior. Jepang sama Cina adalah yang paling berat. Jadi, latihannya lebih intens, dari Senin sampai Sabtu, di pagi dan sore hari. Menjauhi makanan berlemak dan gorengan. Terus harus rileks, jaga emosi,” papar gadis penggemar anime dan film zombie ini.

Semangat untuk Nanda Mei Sholihah, Indonesia bangga kepadamu!

Komentar Yuk

Close
Close