What'S Up

Adat Nyadranan Desa Sukorejo, Lestarikan Budaya Lokal

Follow Kediri – Di Kediri tradisi bersih desa atau yang akrab disebut nyadranan masih menjadi budaya yang terus dilestarikan. Nyadranan digelar sebagai bentuk rasa syukur atas kedamaian dan ketentraman desa. Selain itu nyadranan juga dijadikan sarana untuk doa bersama menolak balak buat desa.

Kamis 27 September 2017, Desa Sukorejo Kecamatan Ngasem Kediri menggelar kirab budaya dan nyadranan. Acara ini diadakan setiap bulan Suro setahun sekali. Pada tahun ini kirab budaya dimulai dari kediaman ketua panitia sekaligus sesepuh Desa Sukorejo,bapak Sumardi, sebelum dilanjut ke Punden Sukodono.

Sudarmanto selaku Kepala Desa Sukorejo juga turut hadir dalam acara ini, perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, tokoh masyarakat beserta tokoh kebudayaan, para pemangku agama dan masyarakat sekitarnya

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri yang diwakili oleh bapak Yuli Marwantoko selaku Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan mengapresiasi diadakannya acara bertajuk tradisi budaya ini.

Beliau menyampaikan dengan adanya ritual 1 Suro yang terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Sukorejo, semoga dapat terus menjaga kearifan lokal dan juga memperkenalkan kepada generasi muda tentang kebudayaan, khususnya cikal bakal Desa Sukorejo,” katanya.

Selain itu, bapak Sumardi juga menyampaikan adanya ritual 1 Suro merupakan wujud syukur kepada Tuhan YME atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. “Selain itu untuk menghormati para leluhur, khususnya yang telah babat alas atau mendirikan Desa Sukorejo ini,” terangnya.

Kirab budaya dan ritual 1 Suro ini tak hanya dimeriahkan oleh masyarakat Sukorejo saja, warga dari luar Kediri seperti Tulungagung, Blitar, Trenggalek dan Yogyakarta pun turut meramaikannya.

Setelah kirab budaya selesai, acara dilanjutkan dengan kenduri bersama masyarakat di Punden Sukodono. Usai kenduri kemudian warga saling tukar berkat dan jajanan yang dibawa sedari berangkat.

Komentar Yuk

Close
Close